Ragam

Muchlis Aseng, Birokrat yang Tak Pernah Melupakan Tanah Kelahiran

Palu, buanapagi.com – Perjalanan karier H. Muchlis Aseng, S.Ag., M.Pd., merupakan kisah tentang seorang putra daerah yang tumbuh dari Tolitoli, menapaki perjalanan panjang sebagai birokrat, dan tetap membawa kecintaan terhadap tanah kelahirannya dalam setiap amanah pengabdian.

Lahir di Tolitoli pada 12 Juli 1969, Muchlis mengawali pendidikan di SD Negeri 3 Tolitoli. Pendidikan kemudian dilanjutkan di SMP Negeri 2 Tolitoli dan SMA Negeri 1 Tolitoli.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Alkhairaat Palu hingga meraih gelar sarjana. Pendidikan akademiknya kemudian dilanjutkan ke jenjang magister di Universitas Negeri Gorontalo.

Perjalanan kariernya berkembang di lingkungan Kementerian Agama. Sejumlah amanah dan penugasan membawanya ke berbagai wilayah di Sulawesi Tengah. Ia pernah dipercaya memimpin Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banggai Laut sebelum kemudian mendapat amanah sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tolitoli.

Kembali bertugas di daerah kelahiran menjadi pengalaman tersendiri bagi Muchlis. Baginya, memimpin instansi pemerintah bukan semata-mata menjalankan tugas administratif, tetapi juga membangun budaya kerja yang mengedepankan kedisiplinan, kebersamaan, kepedulian lingkungan, serta pelayanan kepada masyarakat.

Dari Musala Menuju Masjid Agung

Salah satu pengalaman yang masih dikenang dari masa kepemimpinannya di Kemenag Tolitoli adalah upayanya membangun kebiasaan salat berjamaah di kalangan pegawai.

Saat sebagian pegawai laki-laki terbiasa melaksanakan salat berjamaah di musala kantor, Muchlis mengajak mereka berjalan bersama menuju Masjid Agung Tolitoli.

Perubahan kebiasaan tersebut tidak dilakukan secara instan. Dengan pendekatan dan keteladanan yang dilakukan secara konsisten, para pegawai perlahan mulai terbiasa melaksanakan salat berjamaah di masjid.

Menjelang berakhirnya masa tugas Muchlis di Tolitoli, kebiasaan itu bahkan berkembang menjadi bagian dari keseharian. Para pegawai laki-laki memilih berjalan kaki bersama menuju masjid tanpa menggunakan kendaraan.

Bagi Muchlis, pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa perubahan budaya kerja dapat dimulai dari hal sederhana, selama dilakukan secara konsisten dan bersama-sama.

Kebersihan Menjadi Budaya Kerja

Kepedulian terhadap kebersihan juga menjadi bagian dari gaya kepemimpinannya. Ia mendorong lingkungan kantor tidak hanya terlihat bersih, tetapi juga membangun kesadaran bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian dari kedisiplinan aparatur.

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tolitoli, menurut Muchlis, pernah memperoleh penghargaan sebagai kantor terbersih dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kabupaten Tolitoli.

Pengalaman serupa juga pernah diraih ketika dirinya mendapat penugasan di Kabupaten Banggai Laut.

Namun, bagi Muchlis, penghargaan tersebut bukanlah tujuan utama. Menurutnya, kebersihan harus menjadi bagian dari tanggung jawab aparatur karena kantor pemerintah merupakan tempat masyarakat memperoleh pelayanan.

Tetap Peduli Wajah Kota Tolitoli

Meski perjalanan tugasnya kemudian membawanya ke tingkat provinsi, perhatian Muchlis terhadap Tolitoli tidak pernah surut.

Sebagai putra daerah, ia melihat penataan kota sebagai salah satu aspek penting dalam membangun wajah daerah. Kebersihan, keindahan, ruang publik hingga keberadaan ikon kota, menurutnya, memiliki peran dalam membentuk identitas sekaligus citra sebuah daerah.

Muchlis juga menilai sejumlah monumen dan tugu yang telah lama menjadi bagian dari wajah Tolitoli perlu mendapat perhatian dan pembaruan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Ia turut mengapresiasi pembenahan sejumlah kawasan, termasuk Tanjung Batu, yang dinilainya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang publik yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, Tolitoli tidak harus menjadi kota besar untuk memiliki daya tarik. Identitas daerah justru dapat diperkuat melalui penataan kota, pengembangan pariwisata, pelestarian budaya, kebersihan, serta kreativitas masyarakat.

Pembangunan Bukan Hanya Tugas Pemerintah

Muchlis berpandangan, pembangunan daerah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam menentukan sekaligus mendukung arah pembangunan.

Pengusaha, budayawan, seniman, tokoh agama, pemuda hingga masyarakat umum, menurutnya, dapat memberikan kontribusi sesuai bidang dan kemampuan masing-masing.

“Jangan hanya berharap kepada pemerintah. Masyarakat juga harus punya andil,” ujar Muchlis.

Ia mencontohkan persoalan kebersihan. Program pemerintah akan sulit memberikan hasil maksimal apabila tidak diikuti kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.

Karena itu, pembangunan menurutnya harus berjalan melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah menyiapkan kebijakan serta fasilitas, sementara masyarakat ikut menjaga dan memanfaatkannya dengan penuh tanggung jawab.

Toleransi Menjadi Kekuatan Tolitoli

Selain persoalan fisik kota, Muchlis melihat Tolitoli memiliki modal sosial yang tidak kalah penting, yakni kehidupan masyarakat yang religius sekaligus toleran.

Ia mengenang masa kecilnya di lingkungan yang dihuni masyarakat dengan latar belakang agama berbeda. Hubungan sosial antarmasyarakat terbangun melalui sikap saling menghormati dan menghargai.

Tradisi saling berkunjung serta menghormati perayaan keagamaan menjadi salah satu gambaran kehidupan sosial yang menurutnya perlu terus dipertahankan.

Bagi Muchlis, kehidupan religius yang berjalan beriringan dengan toleransi merupakan kekuatan yang dapat menciptakan suasana aman dan kondusif. Kondisi tersebut sekaligus menjadi modal penting dalam mendukung pembangunan daerah.

Sebelum Jadi Kakanwil, Pernah Pimpin Bidang PHU

Sebelum dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sulawesi Tengah, Muchlis juga pernah menjabat sebagai Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) pada Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Tengah.

Dalam posisi tersebut, ia pernah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan pada malam hari.

Imbauan itu meminta agar kegiatan yang dimulai sekitar pukul 19.30 dapat ditunda atau disesuaikan sehingga masyarakat Muslim memiliki kesempatan melaksanakan salat Isya terlebih dahulu sebelum menghadiri kegiatan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengakomodasi kebutuhan masyarakat sekaligus memperhatikan kehidupan sosial dan keagamaan yang berkembang di Sulawesi Tengah.

Dari Tolitoli untuk Pengabdian Sulawesi Tengah

Perjalanan panjang tersebut akhirnya membawa Muchlis pada amanah sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sulawesi Tengah.

Pengalaman bertahun-tahun di lingkungan Kementerian Agama menjadi bekal penting dalam menjalankan tugas pelayanan publik, khususnya dalam bidang keagamaan serta pelayanan haji dan umrah.

Namun, di tengah tanggung jawab yang semakin luas, Tolitoli tetap memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidupnya.

Tanah kelahiran bukan sekadar tempat ia dilahirkan dan mengenyam pendidikan. Tolitoli juga menjadi bagian dari pembentukan karakter dan nilai-nilai yang kemudian dibawanya dalam perjalanan pengabdian sebagai seorang birokrat.

Bagi Muchlis, jabatan pada hakikatnya merupakan amanah dan kesempatan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dari Tolitoli, tempat ia lahir dan tumbuh, Muchlis melanjutkan perjalanan pengabdiannya untuk Sulawesi Tengah. Perjalanan itu sekaligus menjadi gambaran bahwa seorang birokrat dapat menapaki karier hingga tingkat provinsi tanpa harus kehilangan akar dan kecintaan terhadap daerah asalnya.

Dari Tolitoli untuk Sulawesi Tengah, Muchlis Aseng membawa satu pesan sederhana: pengabdian boleh melangkah jauh, tetapi tanah kelahiran tetap menjadi bagian yang tidak pernah dilupakan.(bp/mad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *