Medan, buanapagi.com — Bank Indonesia (BI) optimistis perekonomian Sumatera Utara (Sumut) terus menguat di tengah perlambatan ekonomi global. Penguatan tersebut ditopang oleh konsumsi masyarakat, investasi, ekspor, serta belanja pemerintah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Ameriza M. Moesa, menyampaikan hal itu dalam kegiatan Bincang-Bincang Media (BBM) yang dihadiri Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut Iman Gunadi, Kepala Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sumut Yovvi Sukandar, serta Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II DJPb Sumut Edy Purwanto, Jumat (7/8/2026).
Ameriza mengatakan, kondisi perekonomian global saat ini masih menghadapi berbagai tantangan. Perlambatan ekonomi terjadi di sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa, India, dan Jepang.
Kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh konflik geopolitik, kenaikan harga komoditas, serta persaingan perdagangan antarnegara.
Di tengah kondisi tersebut, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Berdasarkan data yang dipaparkan BI, ekonomi Indonesia pada triwulan II tumbuh 5,29 persen, meski sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh konsumsi, investasi dan ekspor.
Untuk Sumatera Utara, Ameriza menyebutkan perekonomian daerah tumbuh sekitar 5,4 persen, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang berada di kisaran 4,98 persen. Menurutnya, Sumut termasuk daerah di Pulau Sumatera yang mencatatkan pertumbuhan relatif baik.
Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut adalah peningkatan ekspor. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat harga sejumlah komoditas ekspor Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif di pasar global. Kondisi tersebut kemudian mendorong permintaan terhadap sejumlah komoditas unggulan Sumut.
Selain ekspor, konsumsi rumah tangga dan aktivitas perdagangan juga masih menunjukkan kinerja positif. Sektor investasi dan belanja pemerintah turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama melalui pembangunan infrastruktur dan berbagai proyek strategis.
Ameriza mengatakan, Sumut memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi modal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Letak geografis Sumut yang relatif dekat dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara dinilai memberikan peluang besar untuk pengembangan perdagangan, pariwisata dan investasi.
“Kita punya peluang. Secara geografis, Sumatera Utara lebih dekat dengan luar negeri. Ini merupakan salah satu keunggulan yang harus terus kita manfaatkan,” ujarnya.
BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumut masih memiliki ruang untuk terus meningkat. Kinerja ekspor yang tetap baik, normalisasi produksi sejumlah komoditas, konsumsi masyarakat, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan dan event menjadi sejumlah faktor yang diyakini dapat memberikan dorongan tambahan terhadap perekonomian.
Dari sisi inflasi, BI Sumut optimis tekanan inflasi dapat kembali terkendali dan berada dalam sasaran yang telah ditetapkan. Pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui koordinasi antara BI, pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut Iman Gunadi menegaskan bahwa investasi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut yang lebih tinggi.
Menurutnya, jika Sumut ingin mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, tidak cukup hanya mengandalkan konsumsi dan belanja pemerintah. Pemerintah daerah bersama BI perlu menyiapkan proyek-proyek investasi yang konkret dan memiliki daya tarik bagi investor.
“Kalau kita lihat dari sumber-sumber ekonomi, salah satu jalan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi adalah melalui investasi,” kata Iman.
BI bersama pemerintah daerah dan sejumlah instansi terkait, lanjut Iman, terus melakukan identifikasi serta menyiapkan berbagai proyek investasi potensial di Sumut agar lebih siap ditawarkan kepada investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam menyusun proyek investasi, termasuk aspek kelayakan finansial, penyusunan proposal hingga strategi promosi. BI juga mendorong promosi investasi Sumut melalui forum dan kegiatan investasi di tingkat nasional maupun internasional.
Selain investasi, BI Sumut terus memperkuat program pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya sektor UMKM. Pendampingan dilakukan melalui pengembangan model bisnis, peningkatan kapasitas pelaku usaha, fasilitasi pembiayaan hingga perluasan akses pemasaran.
Di sektor ketahanan pangan, BI juga mengembangkan berbagai model bisnis pertanian dan perikanan yang terintegrasi. Pendampingan diberikan kepada sejumlah kelompok usaha di sektor padi, cabai, bawang merah, jagung dan perikanan dengan harapan model yang berhasil dapat direplikasi oleh kelompok lainnya.
Digitalisasi sistem pembayaran juga menjadi bagian penting dalam penguatan ekonomi Sumut. BI bersama pemerintah daerah, OJK dan berbagai pemangku kepentingan terus mendorong penggunaan instrumen pembayaran digital, termasuk QRIS, untuk memperluas transaksi non-tunai di masyarakat.
Ameriza menilai digitalisasi pembayaran tidak hanya memberikan kemudahan transaksi bagi masyarakat, tetapi juga mendukung transparansi dan efisiensi transaksi pemerintah, termasuk pembayaran pajak dan berbagai layanan publik.
Ke depan, BI Sumut akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, mulai dari perdagangan, ekspor, investasi, pariwisata, UMKM hingga ekonomi digital, Sumatera Utara dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat daya saing daerah di tingkat nasional maupun global. (bp1)





