Ekonomi

Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan, IHSG dan Rupiah Menguat Tajam

Jakarta, buanapagi.com – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen mendapat respons positif dari pasar keuangan domestik. Pada penutupan perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 7,57 persen ke level 5.746,648, sementara nilai tukar Rupiah menguat tajam dan ditutup pada level Rp18.050 per dolar Amerika Serikat (AS).

Langkah BI tersebut pada dasarnya telah diantisipasi oleh pelaku pasar. Kenaikan suku bunga dipandang sebagai upaya bank sentral untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah yang sebelumnya mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian global dan tingginya permintaan valuta asing.

Respons positif pasar menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang ditempuh BI berhasil meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka pendek. Namun demikian, sejumlah risiko eksternal masih membayangi pergerakan pasar keuangan nasional, terutama terkait eskalasi konflik geopolitik global yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

“Meski penguatan IHSG dan Rupiah menjadi sinyal positif, pelaku pasar diperkirakan tetap akan mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah ke depan. Kebijakan fiskal dinilai memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional serta menentukan keberlanjutan penguatan pasar keuangan domestik”, ujar pengamat ekonomi Benjamin Gunawan, Selasa (9/6/2026).

Pengamat menilai kebijakan moneter semata tidak cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi apabila bank sentral negara-negara lain, khususnya Federal Reserve Amerika Serikat, juga mengambil langkah pengetatan kebijakan dengan menaikkan suku bunga acuannya. Dalam kondisi tersebut, daya tarik aset keuangan Indonesia tetap akan menghadapi persaingan yang ketat di pasar global.

Karena itu, ujarnya,  penguatan IHSG dan Rupiah pada perdagangan hari ini tidak dapat dijadikan dasar bahwa kenaikan suku bunga merupakan satu-satunya solusi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

 Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan fiskal berjalan efektif, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan mengurangi ketergantungan terhadap impor yang berpotensi menekan nilai tukar Rupiah.

Selain pasar saham dan nilai tukar, perhatian investor juga tertuju pada pasar obligasi selama Juni 2026. Keberhasilan pemerintah dalam menyerap likuiditas valuta asing melalui penerbitan surat berharga dinilai dapat membantu memperkuat stabilitas Rupiah dan menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Sementara itu, harga emas dunia bergerak relatif stabil di kisaran 4.330 dolar AS per troy ons. Di pasar domestik, harga emas masih berada di sekitar Rp2,52 juta per gram. Pergerakan harga emas pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS yang memberikan tekanan terbatas terhadap pasar logam mulia.

Dengan masih tingginya ketidakpastian global dan risiko geopolitik yang belum mereda, pelaku pasar diperkirakan akan tetap bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan IHSG, Rupiah, dan pasar keuangan Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.(bp2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *