Ekonomi

Harga Pakan Melonjak tapi Harga Ayam Anjlok, Peternak Rakyat di Sumut-Aceh Terancam Gulung Tikar

Deliserdang, buanapagi.com – Industri peternakan ayam potong di wilayah Sumatra Utara (Sumut) dan Aceh tengah menghadapi tekanan hebat (double whammy). Memasuki bulan Juni 2026, harga daging ayam di tingkat konsumen terus merosot tajam. Ironisnya, penurunan harga ini terjadi di tengah lonjakan biaya produksi akibat harga pakan ternak yang melambung tinggi.

​Berdasarkan data dari Deli Serdang—salah satu basis peternakan ayam potong terbesar di Sumut—anomali pasar ini mulai terasa sejak April lalu. Pada periode tersebut, pasokan daging ayam sebenarnya sempat mengalami penurunan sekitar 17 persen secara bulanan (month-on-month). Namun, alih-alih meroket, harga daging ayam di Pasar Tanjung Morawa justru merosot dari Rp39.000 per kilogram (kg) di awal April menjadi Rp34.000 per kg di akhir bulan, dan terus turun ke angka Rp32.000 per kg pada Mei.

​Masuk pertengahan Juni, pasokan terpantau kembali terkerek naik sekitar 18 persen dibanding bulan April. Meski volume pasokan ini tidak jauh berbeda dengan rata-rata pasokan bulanan, harga daging ayam di pasar tradisional saat ini justru terperosok ke kisaran Rp30.000 per kg. Kondisi ini kontras dengan periode April–Juni tahun lalu, di mana harga pangan relatif stabil di angka Rp28.000 hingga Rp31.000 per kg.

​Analisis pasar menunjukkan ada tiga faktor utama yang mengoreksi harga daging ayam pada bulan Juni ini. Faktor pertama adalah pergeseran prioritas belanja musiman. Penurunan permintaan (demand) secara masif terjadi karena masyarakat memasuki periode tahun ajaran baru dan kenaikan kelas. Para pedagang mengeluhkan sepinya omzet karena para ibu rumah tangga memilih menghemat uang belanja dapur demi mencukupi kebutuhan sekolah anak, di mana kelesuan belanja tahun ini dirasa lebih berat dibanding tahun lalu.

“​Faktor kedua dipicu oleh indikasi melemahnya daya serap dari sektor hulu, khususnya oleh dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sejak program ini diluncurkan, produksi ayam potong nasional sempat terdongkrak naik 17 persen hingga 25 persen”, ujar pengamat ekonomi Sumut Benjamin Gunawan,bSelasan(9/6/2026).

Program ini pula yang sebelumnya menjaga harga ayam tetap mahal di atas Rp40.000 per kg pada awal tahun 2026, setelah sempat berada di rentang Rp25.000–Rp30.000 per kg pada tahun 2024. Faktor ketiga adalah adanya tren peningkatan pasokan dari sisi produsen akhir-akhir ini. Kombinasi antara pasokan yang melimpah dan daya beli yang menyusut membuat koreksi harga di pasar menjadi sangat tajam.

Menurutnya, ​dampak paling fatal dari ketidakseimbangan pasar ini dirasakan langsung oleh peternak di tingkat hulu. Saat ini, harga ayam potong hidup (livebird) di tingkat peternak ambles hingga menyentuh Rp17.000 per kg di wilayah Aceh dan Rp19.000 per kg di wilayah Sumut. Di saat harga jual anjlok, peternak justru harus menghadapi kenyataan pahit berupa kenaikan harga pakan. Efek berantai dari ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang mengganggu rantai pasok global telah memicu kenaikan harga pakan sedikitnya tiga kali, dengan akumulasi kenaikan mencapai Rp600 hingga Rp800 per kg.

​Jika situasi ini dibiarkan tanpa adanya intervensi dari pemerintah, mekanisme pasar akan melakukan “seleksi alam”. Peternak mandiri skala kecil yang memiliki modal terbatas diprediksi akan gulung tikar secara massal. Walau nantinya harga berpotensi kembali normal setelah pasokan menyusut akibat bangkrutnya para peternak, ongkos sosial yang harus dibayar terlalu mahal.

“Pemerintah dan instansi terkait diharapkan segera mengambil langkah taktis untuk memulihkan daya beli masyarakat serta menstabilkan harga pakan demi menyelamatkan kelangsungan usaha peternak rakyat”, pungkasnya. (bp1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *