Ragam

Penahbisan Gereja BNKP Resort 42 Tanjung Anom Berlangsung Khidmat, Ephorus Targetkan Kemandirian Sinode

Teks foto: Ephorus BNKP Pdt. Otoriteit Dachi, S.Th., M.Si., didampingi Praeses BNKP Resort 42 Pdt. Tehefeli Lafau, S.Th., Pendeta Resort 42 Pdt. Rosmawati Hulu, S.Th., serta para pendeta di wilayah Resort 42 membuka selubung papan nama gereja sebagai tanda penahbisan Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) Resort 42 Tanjung Anom.(Ist)

Deli Serdang, buanapagi.com – Prosesi penahbisan Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) Resort 42 Tanjung Anom di Jalan H.M. Puna Sembiring, Gang Bersama, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Minggu (23/8/2026), berlangsung khidmat, meriah dan penuh sukacita.

Penahbisan dipimpin langsung Ephorus BNKP Pdt. Otoriteit Dachi, S.Th., M.Si., didampingi Praeses BNKP Resort 42 Pdt. Tehefeli Lafau, S.Th., Pendeta Resort 42 Pdt. Rosmawati Hulu, S.Th., serta para pendeta di wilayah Resort 42, yakni Pdt. Yustani Zendrato, S.Th. dan Pdt. Anggun Gulo, S.Th.

Turut hadir Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ) SNK Hezishokhi Lase, Ketua Panitia Penahbisan SNK Anema’o Laoli, sejumlah tokoh masyarakat Nias, perwakilan gereja BNKP serta undangan dari berbagai gereja di wilayah Tanjung Anom.

Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi budaya Nias berupa Tari Moyo dan Tari Baluse yang dikenal sebagai tarian perang atau tarian tombak. Setelah itu dilanjutkan dengan pembukaan selubung papan nama Gereja BNKP Resort 42, penyerahan kunci gereja dan penandatanganan prasasti.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ibadah bersama yang diikuti sekitar 300 jemaat dan sejumlah undangan. Suasana ibadah berlangsung penuh khidmat sebagai ungkapan syukur atas selesainya pembangunan serta ditahbiskannya gereja tersebut.

Dalam sambutannya seusai kebaktian, Ephorus BNKP Pdt. Otoriteit Dachi mengungkapkan bahwa saat ini BNKP memiliki sekitar 1.237 jemaat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pelayanan tersebut ditopang 59 resort dan 836 pendeta yang melayani serta menggembalakan jemaat.

Menurut Otoriteit, sekitar 70 persen jemaat BNKP berada di wilayah pedesaan dengan kondisi ekonomi yang relatif terbatas. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan pelayanan dan operasional organisasi gereja.

“Kalau 70 persen jemaat kita berada di pedesaan dengan kondisi ekonomi yang relatif terbatas, tentu berpengaruh terhadap kemampuan jemaat dalam memberikan dukungan finansial. Tetapi ini tidak menyurutkan 836 pendeta untuk terus melayani dalam kondisi apa pun,” ujar Otoriteit.

Ia menjelaskan, perbedaan kekuatan ekonomi antarjemaat turut berpengaruh terhadap operasional organisasi. Selain kebutuhan perkantoran, pelayanan jemaat dan berbagai program organisasi juga membutuhkan dukungan anggaran yang tidak sedikit.

Karena itu, pimpinan Sinode BNKP mulai mendorong pengembangan aset dan usaha produktif sebagai sumber pendanaan alternatif. Langkah tersebut dilakukan agar keberlangsungan pelayanan gereja tidak sepenuhnya bergantung pada kontribusi jemaat.

Salah satu program besar yang tengah dipersiapkan adalah pembangunan training centre di wilayah Nias Utara. BNKP disebut telah membeli lahan sekitar 120 hektare untuk pengembangan kawasan tersebut.

Dari total lahan itu, sekitar 20 hektare mulai dikelola dan membutuhkan anggaran sekitar Rp1,5 miliar. Kawasan tersebut nantinya diharapkan menjadi pusat kegiatan dan pelatihan sekaligus menghasilkan pendapatan bagi organisasi.

“Kita akan menanam sekitar 2.500 pohon kelapa yang nantinya diharapkan bisa mengubah tempat itu menjadi agrowisata milik BNKP,” katanya.

Menurut Otoriteit, pengembangan aset merupakan bagian dari target jangka panjang BNKP untuk mencapai kemandirian pembiayaan organisasi. Bahkan, pihaknya menargetkan dalam lima tahun ke depan seluruh pembiayaan Sinode BNKP dapat dilakukan secara mandiri.

“Target kami, lima tahun ke depan sinode dengan seluruh pembiayaannya bisa mandiri dan tidak mengandalkan pihak lain,” tegasnya.

Ia menambahkan, sejumlah pembangunan aset telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pembangunan rumah dinas Sekretaris Umum yang diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah tahun.

Pembangunan rumah dinas Bendahara Umum juga masih berlangsung, sementara sebuah ruko telah dibangun sebagai bagian dari penguatan aset organisasi.

Otoriteit menegaskan, pembangunan berbagai aset tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat fondasi organisasi sehingga pelayanan BNKP dapat terus berjalan, termasuk membantu jemaat dan pendeta yang berada dalam kondisi ekonomi terbatas.

BNKP Targetkan Pelayanan Hingga Bali

Dalam kesempatan tersebut, Otoriteit juga mengungkapkan rencana memperluas pelayanan BNKP ke berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, jemaat BNKP telah tersebar hingga wilayah Kalimantan.

Ia berharap pada tahun depan BNKP dapat membuka pelayanan di Bali sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan pelayanan gereja.

“Kita terdiri dari 1.237 jemaat yang menyebar di seluruh Indonesia sampai ke Kalimantan. Kalau Tuhan menolong, tahun depan kita akan membuka jemaat kita di Bali. Jadi gereja BNKP akan hadir di Bali,” ujarnya.

Otoriteit juga menyadari masa pengabdiannya sebagai pimpinan BNKP akan segera berakhir. Dengan usia yang kini mencapai 62 tahun, ia berharap berbagai program besar yang telah dimulai dapat diteruskan oleh kepemimpinan berikutnya.

“Saya pasti akan berakhir tahun depan. Usia saya sekarang 62 tahun dan tidak bisa lagi meneruskan. Tetapi kita sama-sama berdoa karena ada berbagai proyek besar yang sedang kita mulai dan berharap itu bisa dilanjutkan di masa depan,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh warga gereja untuk tidak minder meskipun berada dalam keterbatasan ekonomi. Menurutnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melayani dan membangun kehidupan bergereja.

Sementara itu, Ketua Panitia Penahbisan SNK Anema’o Laoli mengatakan, perjalanan BNKP Resort 42 Tanjung Anom telah berlangsung cukup panjang sejak berdiri pada 1997. Seiring waktu, jumlah jemaat terus berkembang hingga mencapai sekitar 300 kepala keluarga.

Berbagai tahapan pembangunan dan pengembangan fasilitas gereja dilakukan secara bertahap sebelum akhirnya penahbisan dapat terlaksana. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan hasil kebersamaan dan dukungan berbagai pihak.

Hal senada disampaikan Ketua BPMJ SNK Hezishokhi Lase. Ia mengatakan, gereja terus melakukan pengembangan fasilitas seiring pertumbuhan jumlah jemaat dan perkembangan kawasan Tanjung Anom.

Menurutnya, gereja telah menyelesaikan pembelian awal lahan di bagian depan dan samping gereja. Sebelumnya, pembangunan rumah dinas pendeta dan gedung sekolah minggu telah dimulai pada 2023 dan rampung pada 2025 dengan mengusung konsep Omo Hada, rumah adat Nias.

“Melihat perkembangan jemaat yang telah mencapai 300 kepala keluarga, seiring dengan perkembangan wilayah Tanjung Anom ini, pembelian lahan telah selesai kami lakukan tepat di samping gereja. Gereja BNKP akan kami kembangkan, tetapi ini memerlukan bantuan, tidak hanya dari jemaat, tetapi juga seluruh pihak maupun para donatur,” katanya.

Pendeta Resort 42 Pdt. Rosmawati Hulu, S.Th., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia, jemaat serta pihak-pihak yang telah memberikan dukungan sehingga proses pembangunan dan penahbisan gereja dapat terlaksana dengan baik.

Maruli Siahaan Berikan Apresiasi

Kegiatan tersebut turut dihadiri anggota DPR RI Komisi XIII Dr. Maruli Siahaan, SH, MH yang diwakili tenaga ahlinya, Bangun Taruli Siahaan. Ia memberikan apresiasi terhadap perkembangan jemaat BNKP Resort 42 Tanjung Anom.

Menurutnya, penahbisan tersebut menjadi bukti berkembangnya pelayanan dan pertumbuhan jemaat BNKP di kawasan Tanjung Anom.

“Kami sudah mendengar langsung bahwa dari beberapa gereja BNKP, ternyata gereja ini yang telah diresmikan atau ditahbiskan oleh Ephorus sebagai pimpinan tertinggi yang datang jauh dari Pulau Nias,” katanya.

Bangun Taruli juga menyinggung kondisi pembangunan di Pulau Nias yang menurutnya masih membutuhkan perhatian. Ia mengatakan pembangunan di wilayah tersebut terus didorong oleh pemerintah daerah.

“Pulau Nias ini sebagai pulau terindah tetapi pembangunan masih tertinggal. Namun kita lihat saat ini pembangunan terus dikebut Bapak Gubernur. Jadi, begitu sayangnya Bobby Nasution kepada Pulau Nias,” ucapnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan dan pengembangan pelayanan gereja, Maruli Siahaan turut memberikan bantuan kepada BNKP Resort 42 Tanjung Anom.

Acara penahbisan kemudian ditutup dengan kegiatan lelang dan doa. Sejumlah tokoh masyarakat Nias turut hadir, di antaranya mantan Bupati Nias Utara Edward Zega, Heppy Zega yang mewakili Panitia Pembangunan Gedung Gereja BNKP Tanjung Anom, AKBP (Purn) A. Lase yang mewakili Dewan Penahbisan, perwakilan BPHMS BNKP, BPMR 42 BNKP, BPPR 42 BNKP, Majelis Jemaat BNKP Tanjung Anom, serta jajaran Panitia Penahbisan Gedung Gereja BNKP Jemaat Tanjung Anom Resort 42. (bp/ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *