Jakarta, buanapagi.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menempatkan penguatan integritas pasar modal sebagai prioritas utama dalam mempercepat transformasi Pasar Modal Indonesia agar semakin efisien, transparan, terpercaya dan inovatif.
Penguatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan peran pasar modal dalam mendukung pembiayaan pembangunan nasional sekaligus mendorong transformasi menuju perekonomian Indonesia yang resilien dan berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia di Jakarta, Senin (10/8/2026).
“OJK berkomitmen untuk terus meningkatkan likuiditas, transparansi, tata kelola dan enforcement serta sinergitas sebagai bagian dari rencana aksi reformasi integritas di Pasar Modal Indonesia. OJK juga senantiasa terus memperkuat kapasitas kelembagaan dan sistem pengawasan,” ujar Friderica.
Peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia mengusung tema “Akselerasi Transformasi untuk Berdaulat, Mandiri, dan Maju Bersama”. Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, jajaran Anggota Dewan Komisioner OJK, Self-Regulatory Organization (SRO), asosiasi dan para pemangku kepentingan pasar modal.
Friderica mengatakan, berbagai reformasi integritas yang dilakukan telah membawa perubahan terhadap wajah pasar modal Indonesia. Salah satunya terlihat dari jumlah Single Investor Identification (SID) yang telah mencapai 30,27 juta atau tumbuh 48,67 persen secara tahunan.
Menurutnya, peningkatan jumlah investor tersebut tidak sekadar menunjukkan pertumbuhan angka, tetapi juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan dan harapan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia.
Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia menjadi momentum untuk terus menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan nasional maupun internasional.
Airlangga juga mengapresiasi berbagai reformasi yang telah dilakukan OJK dan berharap sektor keuangan Indonesia semakin kredibel, inovatif dan berdaya saing.
Senada, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengapresiasi reformasi integritas pasar modal yang dilakukan OJK bersama SRO. Menurutnya, pasar modal diharapkan semakin dalam, likuid, terpercaya dan kredibel sehingga mampu memfasilitasi investasi serta mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam rangkaian peringatan tersebut, OJK juga meluncurkan Exchange Traded Fund (ETF) Emas sebagai instrumen investasi baru yang diperdagangkan di bursa saham.
Friderica menyebut ETF Emas merupakan salah satu quick win dari delapan rencana aksi OJK dalam upaya melakukan pendalaman pasar secara terintegrasi.
“ETF Emas menawarkan investasi yang praktis, likuid, sesuai prinsip syariah, berfungsi sebagai safe haven, sekaligus memperluas Pasar Bullion melalui kolaborasi antarlembaga dan pelaku industri,” katanya.
Airlangga berharap kehadiran ETF Emas tidak hanya menambah pilihan investasi bagi masyarakat, tetapi juga mampu meningkatkan likuiditas pasar dan memperkuat perekonomian nasional.
Sementara Juda Agung mendukung peluncuran instrumen tersebut karena dinilai dapat memperluas basis investor, menambah keragaman produk investasi, meningkatkan likuiditas serta memperkuat tata kelola pasar modal.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, ETF Emas diharapkan dapat memperkuat stabilitas pasar modal melalui diversifikasi instrumen sekaligus memberikan lebih banyak pilihan investasi bagi masyarakat.
Hingga 7 Agustus 2026, penghimpunan dana melalui pasar modal tercatat mencapai Rp123,21 triliun melalui 135 aksi korporasi. Sementara jumlah emiten di Pasar Modal Indonesia telah melampaui 962 perusahaan.
Jumlah investor juga terus meningkat hingga mencapai 30,27 juta investor atau bertambah sekitar 9,8 juta investor. Dari jumlah tersebut, sekitar 78 persen investor berusia di bawah 40 tahun.
Pada periode yang sama, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp667 triliun, sedangkan nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.026 triliun.
Dari sisi perdagangan karbon, volume transaksi kumulatif sejak 26 September 2023 hingga 7 Agustus 2026 mencapai 1,98 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai Rp93,89 miliar. Transaksi tersebut melibatkan 158 perusahaan dengan ketersediaan unit karbon mencapai 3,14 juta ton CO2 ekuivalen.
Hasan Fawzi mengatakan, capaian tersebut menunjukkan pasar modal Indonesia terus berkembang, baik dari sisi kemampuan menghimpun dana bagi dunia usaha maupun perluasan basis investor.
“Capaian ini menunjukkan bahwa Pasar Modal Indonesia terus tumbuh, baik dari sisi kemampuan menghimpun dana bagi dunia usaha maupun dari sisi perluasan basis investor. Di sisi lain, peningkatan dana kelolaan mencerminkan semakin berkembangnya pilihan dan kebutuhan investasi masyarakat,” ujar Hasan.
Dalam MSCI Market Classification Review pada Juni 2026, Indonesia kembali dipertahankan dalam klasifikasi Emerging Market. Keputusan tersebut menjadi pengakuan atas berbagai upaya perbaikan yang dilakukan OJK bersama SRO dan seluruh pemangku kepentingan pasar modal.
Sejumlah inisiatif strategis juga terus dipercepat, di antaranya peningkatan persyaratan minimum free float menjadi 15 persen, penyusunan kerangka pengaturan mengenai High Shareholder Concentration (HSC), serta peningkatan transparansi kepemilikan saham.
Sesuai Roadmap Pasar Modal Indonesia 2022–2027, OJK terus mendorong sejumlah target strategis sebagai fondasi pengembangan pasar modal ke depan. Pada fase akhir roadmap tersebut, terdapat empat fokus utama yang perlu terus diperkuat.
Keempatnya meliputi pendalaman pasar melalui optimalisasi sisi supply, demand dan penguatan infrastruktur; peningkatan integritas pasar melalui efektivitas pengenaan sanksi serta peningkatan kualitas emiten dan perusahaan publik; penguatan kelembagaan Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), termasuk pengembangan demutualisasi bursa, peningkatan kualitas penyelenggara Securities Crowdfunding (SCF) dan penguatan cybersecurity; serta pengembangan keuangan berkelanjutan melalui penambahan pengguna jasa Bursa Karbon dan pengembangan produk investasi berbasis pelestarian lingkungan atau sustainable fund.(bp1)




