Teks Foto: Tengku Yanuzar, bin Mahmud Aziz cucu kandung Sultan Mahmud saat ditemui di Masjid Azizi Tanjung Pura, Senin (24/11/2025)
Langkat, buanapagi.com — Masjid Azizi yang berdiri megah di Tanjung Pura bukan hanya menjadi ikon religius, tetapi juga menjadi saksi perjalanan panjang Kesultanan Langkat. Seorang ahli waris kesultanan, Tengku Yanuzar Mahmud Aziz bin Mahmud Aziz, menceritakan kembali sejarah para pendiri kerajaan sekaligus proses pembangunan masjid bersejarah tersebut.
Menurut penuturannya, Sultan pertama Negeri Langkat adalah Sultan Musa Muaja bin Rajahmat. Ayahnya sudah lebih dahulu menjadi raja, namun ketika pusat pemerintahan dipindahkan ke Stabat, barulah Sultan Musa naik tahta secara penuh. Istri-istri Sultan Musa sendiri berasal dari wilayah Bingai, yang saat itu juga menjadi bagian dari Langkat.
Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Abdul Aziz, yang juga merupakan ayah kandung dari Tengku Raimah. Setelah wafat, kekuasaan berpindah kepada putra lainnya, Sultan Mahmud, kakak kandung Tengku Raimah.
Pembangunan masjid ini juga tidak terlepas dari peran para sultan tersebut. Tengku Yanuzar menjelaskan bahwa pada masa Sultan Musa, masjid Azizi masih berbahan papan. Barulah ketika putranya, Sultan Abdul Aziz, beranjak dewasa dan mulai memegang tampuk pemerintahan, masjid dipugar besar-besaran pada tahun 1902 hingga berdiri seperti wujudnya kini.
“Pemborongnya dari Italia, bukan Belanda. Yang dibangun oleh Belanda hanya menara pada tahun 1927,” ungkap Tengku Yanuzar, cucu kandung Sultan Mahmud yang kini berusia 65 tahun, Senin (24/11/2025). Ia menambahkan bahwa kaca-kaca masjid juga didatangkan langsung dari Italia, sementara sebagian pekerjaan bangunan ditangani oleh para pekerja Tionghoa.
Tengku Yanuzar menyebut dirinya hanya menjaga kelestarian masjid secara moral sebagai cucu kandung Sultan Mahmud. “Saya tidak menjaga secara resmi, hanya mengawasi. Kalau ada yang tidak beres, saya tegur. Itu tanggung jawab ahli waris,” ujarnya. Ia kini menetap di Brandan Barat.
Masjid Azizi hingga kini masih menjadi cagar budaya yang pemeliharaannya ditopang oleh Pemerintah Kabupaten Langkat. Bantuan biasanya berupa pengecatan dan perawatan lantai yang dilakukan beberapa tahun sekali.
Di balik bangunan indah ini, perjalanan Kesultanan Langkat juga menyimpan kisah penting dalam sejarah Indonesia. Tengku Yanuzar menuturkan bahwa Tengku Amir Hamzah, Pahlawan Nasional dan menantu Sultan Mahmud, adalah tokoh yang mendorong kesultanan bergabung dengan Republik Indonesia.
“Beliau berbicara dengan mertuanya, Sultan Mahmud. Sultan membantu 100.000 gulden untuk perjuangan Republik. Termasuk gaji pegawai negeri di Langkat saat itu,” tuturnya.
Namun, meski memiliki andil besar, ia menyayangkan bahwa Sultan Mahmud hingga kini belum ditetapkan sebagai pahlawan. Menurutnya, peristiwa kekacauan dan pembunuhan massal saat konflik sosial di masa lalu membuat banyak jejak sejarah terhapus.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa sekolah pertama di Langkat bukanlah berasal dari Jawa, melainkan didirikan oleh Tengku Mas Lurah Mahmud, yang juga tempat Sultan Mahmud menempuh pendidikan pada masa kecilnya.
Kini, Masjid Azizi menjadi tujuan wisata religi bagi pengunjung lokal maupun mancanegara. Mereka datang untuk menyaksikan langsung kemegahan arsitektur gabungan Italia dan Belanda yang masih terawat hingga saat ini, sekaligus merasakan jejak sejarah Kesultanan Langkat yang masih hidup dalam setiap bagiannya. (bp/ril)


