Jakarta, buanapagi.com – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga dan pasokan bahan pokok secara serentak di sejumlah daerah pada Senin (9/3/2026) menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Sidak tersebut dilakukan di berbagai kota, di antaranya Medan, Bandar Lampung, Bandung, Surabaya, Samarinda, Makassar, dan Yogyakarta.
Langkah ini bertujuan untuk memantau stabilitas harga, memastikan ketersediaan pangan, serta mengawasi potensi praktik persaingan usaha tidak sehat dalam distribusi komoditas pangan selama Ramadan hingga menjelang Lebaran.
Dari hasil pemantauan di sejumlah pasar tradisional, KPPU menilai secara umum pasokan bahan pokok masih dalam kondisi aman. Namun demikian, beberapa komoditas tercatat mengalami kenaikan harga akibat meningkatnya permintaan selama Ramadan dan menjelang Idulfitri.
Di Kota Medan, KPPU melakukan sidak di Pasar Petisah dan Pasar Sei Sikambing dengan melibatkan pemerintah daerah serta aparat penegak hukum. Hasil pemantauan menunjukkan ketersediaan bahan pokok relatif aman dengan pergerakan harga yang bervariasi. Harga daging ayam ras tercatat berada pada kisaran Rp43.000 hingga Rp45.000 per kilogram, masih di atas harga acuan pemerintah sekitar Rp40.000 per kilogram. Sementara itu, sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang justru mengalami penurunan harga karena pasokan yang mencukupi di pasar.
Di Provinsi Lampung, KPPU bersama Pemerintah Provinsi Lampung melakukan pengawasan intensif terhadap harga dan ketersediaan bahan pokok. Secara umum harga komoditas pangan masih relatif stabil, meskipun beberapa komoditas di ritel modern tercatat berada di atas harga acuan pemerintah, seperti daging ayam ras Rp45.000 per kilogram, bawang putih Rp39.500 per kilogram, dan bawang merah Rp52.000 per kilogram. Di pasar tradisional, komoditas seperti cabai rawit dan beras medium menunjukkan tren kenaikan harga, meskipun pasokannya dipastikan masih mencukupi hingga menjelang Lebaran.
Pemantauan serupa juga dilakukan di wilayah Bandung Raya. Hasil survei menunjukkan sebagian besar harga bahan pokok relatif stabil, kecuali cabai rawit merah yang masih tinggi pada kisaran Rp95.000 hingga Rp100.000 per kilogram.
Selain itu, harga minyak goreng rakyat Minyakita tercatat mencapai Rp19.000 per liter, melampaui harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter. Para pedagang menyebut harga pembelian dari pemasok yang sudah tinggi membuat produk tersebut sulit dijual sesuai ketentuan harga pemerintah.
Di Surabaya, KPPU melakukan sidak di Pasar Wonokromo bersama sejumlah instansi seperti Polda Jawa Timur, Dinas Perdagangan, Bulog, serta pengelola pasar daerah. Ketersediaan komoditas pangan secara umum dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun KPPU mencatat kenaikan harga pada beberapa komoditas seperti cabai rawit merah serta pergerakan harga minyak goreng yang masih berada di atas HET di beberapa titik pasar.
Sementara itu di Makassar, KPPU memantau langsung harga komoditas pangan di Pasar Terong bersama Bank Indonesia, Bulog, serta dinas terkait di Provinsi Sulawesi Selatan. Beberapa komoditas seperti daging ayam, telur, dan cabai rawit merah mengalami kenaikan harga, meskipun masih dalam batas wajar. Harga ayam potong berada pada kisaran Rp60.000 hingga Rp65.000 per ekor dengan berat sekitar 1,9 hingga 2 kilogram, sedangkan telur ayam ras dijual sekitar Rp58.000 per rak.
KPPU juga mencermati adanya peningkatan permintaan terhadap komoditas ayam dan telur yang diduga berkaitan dengan program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski demikian, para pedagang menyampaikan bahwa pasokan bahan pokok hingga saat ini masih dalam kondisi aman dan belum ditemukan indikasi penahanan pasokan oleh distributor.
Di Yogyakarta, KPPU bersama Dinas Perdagangan Provinsi DIY dan Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan sidak di Pasar Kranggan. Hasil pemantauan menunjukkan harga sejumlah komoditas mulai mengalami kenaikan, terutama cabai rawit merah yang mencapai Rp90.000 per kilogram dari sebelumnya Rp60.000 per kilogram pada awal tahun. Kenaikan tersebut dipengaruhi gangguan pasokan akibat curah hujan tinggi serta meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Selain memantau harga, KPPU juga menemukan praktik yang menjadi perhatian dalam distribusi minyak goreng rakyat Minyakita di beberapa daerah. Di Lampung, ditemukan praktik penjualan bersyarat (tying-in) yang mewajibkan pembeli membeli produk lain untuk memperoleh Minyakita. Di Kota Metro misalnya, konsumen diwajibkan membeli satu truk produk tambahan untuk mendapatkan 40 karton Minyakita. Praktik serupa juga ditemukan di Bandar Lampung, di mana pembeli harus membeli lima karton minyak goreng merek lain untuk memperoleh satu karton Minyakita.
Praktik tying-in juga ditemukan di Kalimantan Timur. Berdasarkan pemantauan KPPU di pasar tradisional Balikpapan dan Samarinda, pedagang yang ingin membeli Minyakita dari distributor diminta membeli minyak goreng merek lain dengan harga lebih mahal. Kondisi ini membuat pedagang menaikkan harga Minyakita di tingkat konsumen sebagai bentuk subsidi silang.
KPPU menegaskan bahwa pemantauan harga dan distribusi bahan pokok akan terus dilakukan hingga mendekati Idulfitri guna memastikan stabilitas pasokan serta mencegah praktik monopoli maupun persaingan usaha tidak sehat. KPPU juga mengimbau masyarakat untuk tetap berbelanja secara wajar dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar.(bp1(



